Mengapa FLPP Kalah Populer dari KPR?
JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) menyatakan akan berupaya menggencarkan kegiatan sosialisasi terkait Peraturan Menteri Perumahan Rakyat (Permenpera) baru tentang pelaksanaan pola hunian berimbang dan Kredit Pemilikan Rumah skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP). Adanya Permenpera baru tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan pembangunan dan pembiayaan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di seluruh Indonesia.
Demikian disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Kawasan Kemenpera Hazaddin T Sitepu saat membuka kegiatan Sosialisasi Hunian Berimbang dan Evaluasi KPR FLPP di acara buka bersama dan diskusi Sosialisasi Permenpera Nomor 13 dan 14 Tahun 2012 bersama Forum Wartawan Perumahan Rakyat (Forwapera) di Hotel Ambhara, Jakarta, Rabu (8/8/2012) malam. Ia tidak menampik, bahwa program kredit pemilikan rumah yang disalurkan melalui Fasilitas Pembiayaan Pembangunan Perumahan (KPR FLLP) oleh Kemenpera belum mengalami kemajuan berarti.
“Fokus masalah yang masih dihadapi Pemerintah (Kemenpera) saat ini adalah menurunnya jumlah akad kredit KPR FLPP tahun ini. Selain masih kecilnya penyaluran pembiayaan dari perbankan, kami mengakui, mungkin masih perlu memberikan informasi mengenai FLPP ini,” ujarnya.
“Kami akan segera sosialisasikan Permenpera baru yang mengatur Pola Pembangunan Hunian Berimbang dan FLPP ke seluruh Indonesia,” kata Hazaddin.
Beberapa Permenpera yang akan disosialisasikan antara lain Permenpera Nomor 10 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman dengan Hunian Berimbang, Permenpera Nomor 13 Tahun 2012 mengatur tentang Pengadaan Perumahan Melalui Kredit / Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera Dengan Dukungan FLPP dan Permenpera Nomor 14 Tahun 2012 mengatur tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera Dengan Dukungan FLPP.
Seperti diketahui, skema pembiayaan perumahan yang dicanangkan Kemenpera melalui program KPR FLPP masih terbilang sedikit. Berdasarkan riset Bank Indonesia (BI) akhir 2011 lalu, tercatat realisasi FLPP yang dimanfaatkan hanya sebanyak 1,66 persen, sementara selebihnya melalui program KPR biasa (komersil) atau non-FLPP.
Hasil survei itu menyatakan, sebagian besar masyarakat atau sekitar 77,23 persen masih memilih fasilitas KPR sebagai pilihan utama dalam membeli produk properti residensial. Sebanyak 1,66 persen memanfaatkan program FLPP dari pemerintah, sementara selebihnya melalui KPR biasa atau non-FLPP.
Laporan tersebut juga mencatat, bahwa fasilitas KPR yang digunakan oleh konsumen pada kuartal IV-2011 meningkat sekitar 74,56 persen jika dibanding dengan kuartal sebelumnya. Peningkatan tersebut lebih dikarenakan kemudahan mengakses fasilitas KPR dan turunnya tingkat suku bunga KPR hingga berkisar 9-12 persen.
Seperti diberitakan sebelumnya, jumlah KPR yang disalurkan melalui skema FLPP menurun dibandingkan tahun lalu. Pusat Pembiayaan Perumahan (PPP) menyatakan, tahun lalu permintaan KPR FLPP rata-rata 8 ribu per bulan, tapi kini hanya menjadi sekitar 2 ribu per bulan.
Ketua DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia, Setyo Maharso, yang menjadi salah satu pembicara dalam diskusi tersebut mengatakan, penurunan tersebut terjadi salah satunya akibat permintaan konsumen tidak sebanding dengan pasokan yang ada, terutama untuk rumah tapak sejahtera dengan luas lantai 36 meter persegi. Padahal, tahun ini Kemenpera telah menurunkan suku bunga FLPP dari 8,5 persen menjadi 7,25 persen.
| Tanggal | 9 Agustus 2012 |
| Penulis | M Latief |
| Sumber | http://properti.kompas.com/index.php/read/2012/08/09/11490135 |
| Tanggal | 2 Oktober 2012 |
| Penulis | - |
| Sumber | http://properti.kompas.com/read/2012/10/02/13303499/Menpera.Doakan.Saja.Semua.Orang.Butuh.Rumah.Kan. |
| Tanggal | 30 September 2012 |
| Penulis | Sheknows/ Dewi Ria Utari |
| Sumber | http://www.beritasatu.com/tips-properti/72850-5-cara-memperbaiki-kualitas-udara-di-dalam-rumah.html |

Menpera: Doakan Saja, Semua Orang Butuh Rumah, Kan?
JAKARTA, KOMPAS.com – Meskipun tingkat serapan kredit kepemilikan rumah (KPR) subsidi atau fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) tidak maksimal, Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz tetap optimistis target program tersebut bakal terpenuhi tahun ini.
“Doakan saja, semua orang butuh rumahkan? Semua ingin memiliki rumah,” katanya di Jakarta, Senin (1/10/2012) kemarin.
Djan menuturkan, realisasi program ini baru 20%. Ini lantaran persetujuan bebas PPN baru keluar Agustus lalu.
“September ini mulai jalan. Insya Allah bisa selesai karena banyak rumah yang sebetulnya bisa dibangun. Cuma, FLPP belum ditandatangani,” jelasnya.
Target FLPP tahun ini mencapai 126.000 unit rumah. Sedangkan jumlah yang mengajukan usulan sampai 143.000 unit rumah.
Sebelumnya, Indonesia Property Watch (IPW) mencatat, realisasi penyerapan kredit rumah subsidi atau fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) Januari-Agustus 2012 baru terserap 15,26%. Padahal target tahun ini pembiayaan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah mencapai 143.200 unit.
Penyebabnya, penyaluran FLPP awal tahun ini diperparah adanya pembatasan rumah FLPP dengan batasan untuk rumah di atas tipe 36 sesuai dengan UU No 1 Tahun 2011 soal Perumahan dan Kawasan Pemukiman Pasal 22 (3) sehingga membatasi ruang gerak penyaluran FLPP. (Yudho Winarto)
Kebersihan dan kesegaran mempengaruhi kualitas udara.
Polusi tidak hanya terjadi di jalan raya. Di dalam rumah pun bisa terjadi polusi. Banyak penyebabnya. Dari lingkungan perumahan yang tak mendukung, sirkulasi udara, hingga kebersihan rumah yang tak terjaga.
Menciptakan udara yang bersih di dalam rumah bisa dilakukan dengan lima cara berikut ini:
1. Membersihkan rumah
Dengan menggunakan sapu, penyedot debu, dan pel lakukan pembersihan rumah. Akan lebih baik jika pembersihan rumah dilakukan secara berkala. Jangan cuma lakukan pembersihan di lantai, tapi juga bagian atas, rak buku, dinding, dan perabotan rumah.
2. Rendahkan tingkat kelembapan
Kelembapan di rumah Anda harus berada di tingkat 30-50 persen. Lebih dari itu akan mendatangkan debu dan jamur. Penyegar udara bisa mengurangi jumlah polusi dan menjaga kelembapan di level yang masuk akal. Pastikan Anda mengeringkan baju di luar rumah dan gunakan kipas exhaust ketika Anda mandi, masak di dapur, atau sedang mencuci piring.
3. Cek kadar racun
Pastikan produk pembersih ruangan Anda tidak mengandung racun. Pilihlah produk pembersih yang organic. Perabotan seperti furnitur, karpet, pelapis dinding, dan pelitur harus juga bebas bahan kimia. Baca labelnya untuk mengetahui kadar kandungan kimia yang digunakan.
4. Tingkatkan kesegaran
Sejumlah aroma terkait dengan tingkat kebersihan dan kesegaran. Misalnya aroma lemon dari dapur yang bersih atau cucian. Dalam kenyataan, sejumlah pengharum seperti deterjen, pelembut cucian, dan cairan pelicin pakaian baik yang semprot ataupun bentuk cairan, semuanya memancarkan kimia ke udara. Kebanyakan produk pembersih beraroma dibuat dari produk petroleum. Lebih baik ciptakan kesegaran dengan membuka jendela lebar-lebar dan belilah tanaman. Tanaman di dalam ruangan bisa berfungsi sebagai penyaring udara yang alami.
5. Jangan ada asap rokok
Selain jelek untuk kesehatan dan menjadi polusi udara, lebih baik lakukan peraturan dilarang merokok di area rumah, karena asap rokok mengandung lebih dari 4000 unsur kimia.
Untuk Pemesanan, Silahkan Menghubungi Staf Marketing Kami:
Efa F,
Hp:08811693876, 081287869039
Pin BB:30CF19EO

